![]() |
| Banjir di Jakarta (img by merdeka.com) |
Bencana
alam ialah sesuatu hal yang tidak dapat kita hindari bahkan kita cegah. Bencana
bisa datang kapanpun dan dimanapun baik ditempat yang tidak kita duga
sekalipun. Banjir merupakan fenomena bencana alam yang sudah biasa kita lihat
di Negara Indonesia ini. Rupanya kita sebagai negeri yang besar ini
terang-terangan menyukai banjir, karena jika musim hujan telah tiba maka banjir
bukanlah suatu hal yang memang biasa.
Namun
bagaimana jika banjir menghambat suatu pekerjaan, atau bahkan mematikan
kegiatan ekonomi yang sedang terjadi karena banjir itu? Contohnya saja kamis
kemarin (10/1/2013). Luapan sungai ciujung yang terjadi pada hari rabu
(9/1/2013) mengakibatkan naiknya air ke permukaan jalan tol dan merendam
sejumlah titik-titik perkampungan yang ada di sekitar bantaran kali ciujung
tersebut. Ratusan warga Serang yang menjadi korban banjir, terpaksa mengungsi
masuk ke dalam ruas Tol Ciujung, Serang Banten.
Hal
tersebut spontan membuat lalu lintas jalan tol menjadi tersendat. Lalu pada
hari kamis akhirnya pihak Tol menutup akses Tol Ciujung – Serang, karena air
sudah setinggi setengah meter naik ke permukaan jalan tol. Akibat dari
penutupan ini membuat banyak kendaraan mengalihkan jalurnya lewat jalur non
tol, yaitu Keragilan – Ciruas – Serang. Jalan yang memang tidak mendukung
karena hanya 2 lajur, dan tidak diimbanginya jumlah mobil yang mengalihkan
lajurnya yang mengakibatkan macet yang tidak bisa dihindari.
Penutupan ruas jalan tol ini memang
membuat banyak orang dirugikan. Karena penutupan itu dilakukan tanpa adanya
pemberitahuan lewat media sehingga orang tidak tahu dengan informasi tersebut.
Fenomena penutupan ruas tol ini membuat media online terus memberitakan berita
terbarunya kepada khalayak publik. Bahkan media ini menjadi salah satu media
informasi yang paling diandalkan ketimbang media konvensional yang lambat. Lalu
media massa online dibantu dengan media sosial atau biasa disebut jejaring
sosial seperti Twitter dan Facebook membantu menyebar luaskannya berita itu
kepada khalayak luas. Khususnya bagi pengguna Twitter dan Facebook bisa
mengetahui sejak dini bagaimana perkembangan ketika banjir itu sedang terjadi.
Kolaborasi
antara media online dan media masa membuat berita tersebar luas dengan cepat.
Banyak sebelumnya belum mengetahui Jalan Tol ditutup dan mengakibatkan macet
menjadi tahu, dan bisa mengantisipasi hal yang akan mereka lakukan. Selain
daripada untuk memberitahukan masyarakat bahwa ada banjir dan penutupan ruas
tol, berita yang disebar lewat media sosial membantu mereka yang sedang
mengungsi di sepanjang jalan tol yang ditutup. Banyak Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang datang untuk membantu mereka. Sebenarnya memang media
sudah memperingatkan bahwa suang ciujung sudah naik dan luapan air yang dibawah
dari daerah Rangkas Bitung sudah mencapai batas waspada. Dan memang ternyata
air sudah meluap hingga menggenangi ruas jalan tol ciujung – serang sehingga
membuat ruas ini ditutup untuk sementara.
Jika kita melihat kebelakang, pada tahun
– tahun sebelumnya ketika banjir ini sering terjadi dan media massa online
hanya berperan sendirian. Tidak banyak orang yang mengetahui hal tersebut.
Contoh kasusnya pada kejadian banjir terbesar di Jakarta pada tahun 2007 bulan
desember. Banjir tersebut mengakibatkan lumpuhnya perekonomian dan banyak
kerugian yang didapat oleh warga Jakarta, banyaknya ruas jalan yang ditutup.
Media massa online pada saat itu belum terlalu mengenal Twitter dan Facebook
bahkan Blackberry Messenger pada saat itu tidak terlalu popular. Akibat dari
pemberitaan yang tidak tersebar luas banyak orang yang diluar Jakarta tidak
mengetahui ruas jalan mana saja yang ditutup dan bagaimana keadaan terbaru
kondisi yang sedang terjadi pada saat itu. Media konvensional seperi koran seakan
tidak bisa berkutik untuk memberitakan informasi, karena media tersebut hanya
sekali dalam satu hari. Media seperti televisi dan radio juga tidak dapat
selalu running news, dan belum tentu
juga semua orang sempat melihatnya ketika sedang dijalan atau sedang diluar.
Perkembangan
Media dari masa ke masa
Sejak tahun
1980-an telah terjadi revolusi informasi secara besar-besaran. Bahkan di hampir
semua bidang revolusi itu terus berlanjut. Di bidang pertanian, industri, dan
teknologi semakin memasrahkan dan menyerahkan diri pada kemampuan digitalisasi.
Sistem yang biasa menggunakan Analog dijadikan digital dan yang digital
disuperdigitalkan. Hal ini memang sudah menjadi lumrah dan dapat dikatakan maju serta tidak ketinggalan
jaman kita mesti membuka diri dan mau tidak mau menggunakan teknologi digital.
Perkembangan digitalisasi besar-besaran saat ini mau tidak mau ‘memaksa’ para
penggunanya untuk terus update,
dan harus mengubah cara pandang dalam menjalani kehidupan yang semakin canggih
dewasa ini. Sebuah teknologi yang telah dan akan terus-menerus membuat
perubahan besar bagi seluruh dunia. Entah dalam kapasitasnya (media digital)
sebagai alat dan sarana mempermudah segala urusan sampai kepada pembuat masalah
karena disalahgunakan mereka yang tidak bertanggungjawab.
Lalu pada
abad 21 kita mulai mengenal yang namanya mailing
list, yang membuat pengguna email di seluruh dunia dapat berbincang atau update informasi-informasi yang terbaru.
Lalu mulai bermunculan jejaring sosial yang bernama blog, Friendster yang sempat populer digunakan oleh anak
– anak muda. Namun media sosial itu belum dapat dioptimalkan oleh media massa
online. Lalu pertengahan tahun 2007 diperkenalkannya Facebook yang mulai membius masyarakat untuk
menggunakannya. Selain memang penggunaannya yang mudah dan gratis, media Facebook
ini dapat menjadi media untuk memperkenalkan atau mengiklankan produk. Hal
tersebut dilihat menjadi peluang untuk mengiklankan media massa online dan terus
mengupdate berita terbaru melalu media sosial Facebook ini.
Dengan adanya
Facebook, maka pemberitaan dari media online dapat tersebar, namun belum
efektif karena pengguna di Indonesia pada saat itu baru sedikit. Ditahun 2009
kita juga mulai dikenalkan dengan media sosial yang bernama Twitter yang ringan
dan bersifat micro blogging atau blog
mini yang hanya bisa update status 160
karakter. Inilah yang membuat masyarakat tertarik untuk menggunakannya. Selain
mudah, mereka tidak dipusingkan dengan sisa karakter yang tidak terpakai. Media
massa online pun tidak perlu harus memberitakan sepenuhnya di Twitter layaknya
seperti memberitakan di Facebook, justru dengan pemberitaan yang singkat dan
mengkaitkan link berita ke situs media online tersebut dapat meningkatkan traffic pengunjung, dan meningkatkan rating website mereka. Sehingga semakin
banyak dikunjungi, maka semakin banyak pula perusahaan yang ingin beriklan ke
media online tersebut.
Kolaborasi yang pas.
Media sosial juga ialah salah satu
jenis media online yang memberikan kontribusi besar dalam bidang jurnalisme.
Berkat adanya jejaring sosial ini, masyarakat tidak hanya dapat berjumpa
kembali dengan kawan lama atau bersilaturahmi dengan saudara jauh tetapi juga
bisa menjadi jurnalis. Tak dapat dipungkiri, kehadiran jejaring sosial turut
berperan dalam menggeliatkan aktivitas jurnalisme warga, atau kata lainnya
adalah citizen journalism/ participatory journalism.
Kolaborasi antara media massa online
dan media sosial memang patut diacungi jempol. Saling menguntungkan karena
seiring berjalannya waktu, pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia
berkembang dan terus bertambah hingga mencapai jutaan pengguna. Selain
keuntungan yang didapat dari kedua media ini, masyarakat yang menggunakannya
bisa mengetahui berita terbaru sehingga berita tersebar secara luas.
Tentu
kita berharap dengan adanya kolaborasi diantara kedua media ini menjadikan
informasi yang tidak terbatas, dan bebas diakses oleh siapapun tanpa mengenal
waktu. Dengan seperti itu, masyarakat tidak buta dan sama-sama saling
menguntungkan.





