Dua
minggu sudah gubernur terpilih DKI Jakarta Joko Widodo atau biasa disebut Jokowi
berkerja dimeja balaikota Jakarta, namun suasana ruangan sepertinya tidak
sering ditempati karena jokowi selalu berada diluar kantor untuk turun langsung
ke lapangan. Hal tersebut bisa dibilang kebiasaan yang jarang dilakukan oleh
pejabat setingkat Gubernur untuk panas-panasan dan turun kejalan melihat
langsung permasalahan yang datang pada meja kerjanya. Kebiasaan yang jarang ini
menyebabkan media massa seolah-olah kebanjiran
bahan berita, setiap langkah yang dilakukan atau yang dibicarakan oleh
mantan walikota solo ini selalu diberitakan di media massa. Jika kita mengamati
pemberitaan media massa online lokal detik.com sekurangnya tiga berita setiap
hari yang bertema Jokowi yang selalu bertengger dihalaman depan website media
tersebut.
Akan
tetapi ini juga terbilang boomerang bagi
pers yang seolah-olah selalu mengesploitasi kegiatan yang selalu dilakukan
Jokowi setiap waktu. Bisa dibilang Pers layaknya seperti ekor dari Jokowi, kemanapun gubernur ini pergi dengan tujuan untuk
dinas, pers selalu ada dibelakangnya bahkan hal kecil yang bisa dibilang tidak
layak untuk diberitakan seperti Jokowi membaca berita online menggunakan gadget
bermerek pun diberitakan yang bisa dibilang itu adalah berlebihan1. Lalu
apakah hal tersebut salah? Mungkin sebagian besar menjawab Tidak dan sebagian
kecil ada yang menjawab Ya. Alasan logis yang menjawab itu tidak salah mungkin
menilai bahwa sosok Jokowi ialah sosok yang membawa perubahan bagi Jakarta
dimana warga Jakarta mempunyai hak untuk selalu mengetahui langkah yang sedang
dilakukan oleh Jokowi, dan sebagian kecil yang menjawab Ya mungkin beralasan
bahwa setiap orang mempunyai privasi dan pers mempunyai kode etik dan batasan
yang harus dimengerti.
Ada
banyak bermacam alasan kenapa pers seolah-olah selalu mengekspos pemberitaan
Jokowi, bagi saya pers tidak menyajikan berita yang berimbang dan berbobot jika
selalu jokowi yang dimunculkan. Seberapa penting keberadaan jokowi dalam
pembangunan Jakarta? jawabanya sangat penting, namun seberapa penting jika
kehidupan privasi jokowi diberitakan? Saya jawab tidak penting. Pers dan
Wartawan berita mempunyai fungsi utama yaitu menginformasikan berita yang
memang bermanfaat dan untuk kepentingan masyarakat, apa bedangan dengan
wartawan infotainment yang selalu memberitakan privasi seseorang hanya untuk
khalayak ketahui tanpa adanya manfaat.
Tidak mungkin jika
pers tidak mengetahui nilai-nilai jurnalistik, jangan karena rating Jokowi
sebagai sosok sebagai perubahan Kota Jakarta. Pers melupakan arti sebagai agent of change di Negara ini. Dan
sampai kapan pers menjadi ekor Jokowi?

0 komentar:
Posting Komentar