INILAH.COM, Jakarta - Tanggapan Presiden SBY terhadap pidato pembukaan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Jusuf dalam Munas begitu mengagetkan banyak pihak. Reaksi tersebut dinilai sebagai bentuk dari kepanikan SBY akan ditinggalkan Golkar. "Tanggapan SBY atas pidato JK dalam munas Golkar memperlihatkan kepanikan, keburu-keburuan dan bahkan ketidaktahuan makna oposisi," ujar Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (7/10).
Ia mengatakan, sangat disayangkan SBY begitu cepat bereaksi menanggapi pernyataan yang asumtif sifatnya. Sebab, menurut Ray, JK hanya menawarkan agar Golkar beroposisi. "Satu pilihan tepat disaat semua parpol ingin masuk kekuasaan," tutur Ray yang nama sebenarnya Ahmad Fauzi.
Dengan reaksi tersebut, Ray menjelaskan, SBY pada dasarnya tidak menginginkan munculnya kekuatan oposisi sebagai bagian dari pilar demokrasi. Setidaknya, baginya, terdapat 3 keganjilan dalam tanggapan SBY.
"SBY menyebut bahwa oposisi Golkar dapat inkontitusionl jika dilakukan dari sekarang. Tentu tak ada oposisi yang inkonstitusional jika Demokrat sekalipun misalnya melakukan itu," imbuhnya.
Golkar, lanjut Ray, juga harus mengoposisi pemda yang dikuasai Golkar. Karena jika Golkar adalah penguasa di daerah maka oposisi dilakukan oleh parpol lain. "Bahwa oposisi dapat dilakukan oleh LSM. Tentu LSM tidak mengoposisi. LSM hanya menempati posisi kritik sipil," jelas Ray. [jib]
0 komentar:
Posting Komentar