You are here:Home » Politik » SBY vs JK, Kepura-puraan vs Hati Nurani

SBY vs JK, Kepura-puraan vs Hati Nurani

Saya berbicara dengan seorang caleg terpilih dari PAN per telepon. Kemarin ia baru saja menghadiri acara deklarasi tim pemenangan SBY-Boediono se-Indonesia timur di Hotel Clarion di Makassar. Ia heran karena suasananya kok tidak gegap gempita.

“Seperti tidak menghadiri acara deklarasi dari pasangan yang akan menang. Tidak meriah, loyo …” Ia berkata. Ia menangkap kesan bahwa orang-orang itu berteriak tidak dengan semangat yang lahir dari hati yang paling dalam. Tentu ada juga yang berteriak dengan penuh semangat.

Acara itu dihadiri langsung Hatta Radjasa, yang pro SBY. Tapi hadir pula Amin Rais yang tidak melarang kader PAN mendukung kader lain.

Caleg ini terpilih di Manado, Sulawesi Utara. Di sana ia melihat arus dukungan untuk calon dari “Sulawesi” begitu kuat. Sudah jamak diketahui, JK dari Makassar dan Uga, istri Wiranto, dari Gorontalo.

“Sebagai orang Sulawesi, hati nurani saya ke JK. Tapi sebagai orang PAN, ya, harus dukung SBY dong!” katanya tentang dilema itu.

Lo, terus gimana? “Ya, kalau ada deklarasi, kita harus hadir. Tapi kepada massa saya bilang pilih sesuai hati nurani. Keluarga saya sendiri mendukung JK.”

Ada lagi cerita seorang gubernur dari Indonesia timur. Ia Ketua PAN di daerahnya. Ia pengusaha, lahir dan besar dari Hipmi.

Suatu waktu ia ke Makassar, cerita seorang teman. Di lobi hotel berbintang, ditemani enam stafnya, Pak Gubernur bercerita dengan mitranya. Iseng-iseng, mitranya bertanya ke seorang staf, seorang perempuan.

“Kamu dukung siapa”

“JK dong. Dia kan orang Sulawesi.”

Si mitra bertanya lagi ke staf yang duduk di dekat perempuan tadi.

“Saya… Ya, SBY dong! Dia kan ganteng dan berwibawa.”

Mendengar itu, gubernur tadi langsung berdiri. Katanya, dengan nada tinggi: “Hei… kamu ke luar dari sini. Di sini pendukung JK semua.”

Si mitra tadi kaget. Soalnya, gubernur ini kan orang PAN.

“Partai kita dukung yang lain. Nurani kita kan JK,” jelas gubernur itu.

Melihat staf tadi kaget bukan main, Pak Gubernur mencairkan suasana dengan guyonan. Jadilah pertemuan malam itu menjadi pertemuan “tim sukses” JK-Wiranto.

Cerita lainnya. Kali ini tentang wakil bupati yang berasal dari PPP. Ia alumni HMI. “Partai mendukung yang lain, saya mendukung alumni HMI,” katanya.

Wali bupati ini bercerita, suatu waktu, ia mengumpulkan 10 anggota DPRD. Ia mengecek peta. Hasilnya: sembilan dukung JK, satu ke SBY. Mega tidak ada.

Seorang lagi pejabat tinggi dari PKS. Resminya, partainya mendukung calon lain. Untuk menghormati keputusan partai, si pejabat pura2 mendukung. Tapi kabaranya ia minta adiknya untuk bergerak demi kemenangan pasangan JK-Wiranto.

Barangkali, cerita2 seperti ini juga ada di kubu SBY maupun Megawati. Bahwa orang-orang Golkar mungkin saja lari ke SBY. Bisa juga ke Megawati.

Apa motivasi orang-orang itu mendukung capres? Cerita2 di lapangan seru juga.

1. Mendukung SBY-Boediono. Kan sudah pasti menang, demikian mereka berkata, mengutip hasil-hasil survei. Para elite yang mendukung pasangan ini tentu mengharapkan bagi-bagi jatah kelak bila terpilih.

2. Mendukung Mega-Prabowo. Kalau melihat hasil survei, ah, sudah pasti kalah. Mengapa tetap mendukung? Ada Prabowo, duitnya banyak. Pada pemilu legislatif, mobil dan motor mengalir ke daerah2.

3. Mendukung JK-Wiranto. Modalnya cuma 3 persen, menurut hasil survei. Duit kampanyenya juga cuma 10 M, jauh dari yang lainnya. Hanya orang nekat saja yang mau mendukung. Bila kemudian dukungan ke JK terus naik, jangan-jangan ada panggilan hati nurani.


info:

http://public.kompasiana.com

0 komentar:

Posting Komentar